
PALOPO,- Pada Ahad, 3 November 2024, sekumpulan mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Arab (PBA) IAIN Palopo melakukan perjalanan penuh makna ke Kampung Kitab Kuning Campalagian (K3C) yang terletak di Kabupaten Polewali Mandar, Sulawesi Barat. Kegiatan study tour ini bertujuan untuk menyelami lebih dalam tradisi pembelajaran pesantren, terutama yang berkaitan dengan pengajaran kitab kuning, sebuah warisan intelektual yang sangat berharga dalam dunia pendidikan Islam di Indonesia.
Setibanya di K3C, para mahasiswa disambut hangat oleh Nangguru Daamin, pendiri Pondok Pesantren Syekh Muhammad Amin sekaligus pengelola K3C. Dengan semangat yang tinggi, Nangguru Daamin memaparkan bagaimana Kampung Kitab Kuning ini menarik perhatian ribuan santri dari berbagai penjuru Nusantara, khususnya ketika musim liburan tiba.
“Kami tidak pernah kekurangan santri, terutama saat liburan. Rumah waqaf yang kami sediakan sering kali penuh. Bahkan, warga sekitar dengan senang hati membuka pintu rumah mereka untuk menampung para santri yang belajar di sini,” ungkap Nangguru Daamin dengan senyum ramah.
K3C dikenal dengan metode pembelajaran yang unik dan khas, yaitu pengajaran kitab kuning dengan fokus utama pada kaidah Nahwu dan Sharaf. Nangguru Daamin menjelaskan, “Santri yang baru datang akan diajarkan kitab Sharaf terlebih dahulu, kemudian berlanjut ke Nahwu dengan menggunakan matan Jurumiyyah. Kami mengutamakan pendekatan gramatikal deduktif, di mana santri diajarkan kaidah Nahwu terlebih dahulu, lalu diberikan contoh I’rob. Setelah itu, mereka langsung mempraktekkan dengan meng-i’rob ayat-ayat Al-Qur’an dan hadits.” Pendekatan ini terbukti efektif, karena banyak santri K3C yang berhasil melanjutkan studi ke negara-negara Timur Tengah, seperti Mesir dan Yaman.
Tidak hanya metode pembelajaran yang menarik perhatian, sistem administrasi di K3C juga patut diacungi jempol. Di pesantren ini, santri tidak dikenakan biaya pendidikan. Semua fasilitas seperti tempat tinggal, air, dan listrik sudah disediakan tanpa biaya. Yang harus dibayar hanya untuk kebutuhan makan sehari-hari. “Kami berusaha memberikan fasilitas terbaik tanpa membebani santri dengan biaya pendidikan. Santri hanya perlu menanggung biaya makan mereka sendiri,” tambah Nangguru Daamin.
Kunjungan ini menjadi pengalaman yang sangat berharga bagi mahasiswa PBA IAIN Palopo, yang tidak hanya belajar tentang metode pembelajaran bahasa Arab, tetapi juga menyaksikan langsung bagaimana tradisi pesantren dapat bertahan dan berkembang dengan cara yang sangat sederhana namun penuh dedikasi. Semoga perjalanan ini dapat memperkaya wawasan mereka dan memotivasi untuk lebih mendalami ilmu, khususnya dalam kajian bahasa Arab dan ilmu keislaman lainnya.
Dengan segala keunikan dan semangat yang ada di K3C, kampung ini bukan hanya menjadi tempat belajar, tetapi juga menjadi simbol kekuatan tradisi pendidikan pesantren yang terus hidup dan berkembang di tengah-tengah masyarakat.